all you can read!

Friday, May 25, 2012

Awal perjalanan, Awal yang baru


Sewaktu awal-awal aku di terima di sastra jerman UI, tak lama setelah pengumuman, aku pergi ke salah seorang tetanggaku. Ya aku datang ke tetanggaku itu siang hari, dalam rangka meminta bantuannya untuk mengajukan BOPB. Aku memerlukannya untuk mengisi suatu formulir untuk pengajuan BOPB itu.

Sebagai tetangga yang baik, tentulah ia bertanya pada ku dengan ramah.
" Eh dik Retno, sudah diterima kuliah ya? Alhamdulillah. Diterima dimana?", tanya beliau sambil tersenyum lebar.
Aku menjawab, "Alhamdulillah di UI Pakde" sambil tersenyum sopan.
Beliau pun menyahut, "Oh alhamdulillah. Hebat sekali ya".
Aku hanya tersenyum. Sebagian  senang, sebagian ragu.
Ragu?
Ya aku ragu.
Seakan situasi ini menyindirku, beliau bertanya lagi, "Di jurusan apa?"
Hmmmmphhh.. Benar saja.
Ku jawab dengan suara perlahan, " Sastra, Pakde".
Saat itu aku berdoa di dalam hati, nyaris sesak napas karenanya.
Jangan.. please jangan diterusin lagi..
"Sastra?sastra apa?",lanjut beliau.
".. Sastra Jerman, Pakde", jawabku pelan..

Detik berikutnya setelah itu, aku menunduk, nyaris tak berani menatap muka beliau.
Entah kenapa aku ragu mengakui status "sastra jerman" ku saat itu.

Ternyata tak berhenti sampai disitu.
"Sastra jerman?kok ambilnya sastra jerman?", kata beliau setengah tersenyum sambil membalik-balikkan kertas formulir BOPB yang kuberikan padanya.
Aku tersentak, kaget, tidak tahu harus berkata apa.
Setelah tak terdengar jawaban dariku, beliau menambahkan lagi, "kenapa nggak ambil sastra indonesia aja?itukan sastra kita sendiri".
..... hening di dalam hati. Aku terdiam mendengar pertanyaan itu.
Bersamaan dengan itu, aku berpikir berputar-putar, memutuskan jawaban terbaik yang bisa ku lontarkan.
"hmmmm.. soalnya.. ee.. saya tertarik dengan itu Pakde."
haaahhh.. sungguh bodoh. Nggak ada jawaban yang lebih keren apah?
Mendengar jawabanku, beliau hanya tersenyum-senyum simpul.
Dalam hati aku menebak-nebak apa arti dari senyum itu sambil berharap urusan isi-mengisi formulir ini cepat berakhir.

Itulah sepenggal pembicaraan, yang membuatku berpikir dan berusaha menebak-nebak jalan hidupku untuk beberapa tahun mendatang, atas pilihanku.

Saat itu aku tidak mengerti, kenapa bisa merasakan keraguan seperti itu.
Mungkin, bayangan akan kuliah sastra, yang sama sekali taak pernah terbayangkan olehku, membuatku sedikit takut. Perasaan takut seperti saat kita harus menjabat tangan seseorang yang sama sekali belum kita kenal.

Mungkin juga, karena aku masih merasa sedih, atas kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pilihan pertamaku, yang kuidam-idamkan sampai terbawa mimpi, yang akhirnya sekarang masih sekedar mimpi.

dan pembicaraan diatas, nyaris membuatku goyah akan pilihanku, nyaris membuatku merasa kerdil. Hal itu seakan-akan menguatkan penilaian bahwa seharusnya, aku tidak merasa senang karena telah diterima kuliah di sastra jerman.
Aku menyukai bahasa jerman, aku menikmati saat-saat belajarnya di SMA. Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku memilih sastra jerman, hanya saja..

..

Setelah beberapa bulan ini menjalani perjalanan baruku, aku setidaknya mulai merasa tenang. Dan bersyukur, itu yang terpenting. Aku mulai menata tujuan ku, dan menjalaninya. Pada awalnya aku harus berusaha keras, memalingkan wajah dari sisi-sisi yang mengingatkanku pada pilihan pertamaku.

Kini, aku bisa lebih menghargai ilmu, terlepas dari pandangan orang lain. Aku bisa menghargai nikmat Nya terhadapku atas pilihanku ini.

Aku kini mengerti,  bahwa aku akan bisa bahagia juga di jalan ini. Jalan yang mungkin menurut orang lain tidak spesial. Walaupun aku tau, aku mungkin tidak bisa sepenuhnya sempurna dalam menjalaninya.

Tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk setuju atas penilaianku, bukan?

dan saat ini aku akan terus melantunkan senandung "sastra jerman" itu bersama teman-teman yang lain. teman-teman yang juga akan ku jumpai  di puncak nanti.. Insya Allah

No comments:

Post a Comment