The big rocks
1. go to Germany with the "Sommerkurz" scholarship by DAAD (2014)
2. finish my study with very satisfying grade "cum laude" (2015)
3. start officially to work (2015)
4. take S2 degree in Germany by scholarship--psychology, linguistic or else (2016-2017)
5. make up career (2017-die)
6. take S3 degree in Germany by scholarship (2018)
Things that I want to be--have to be able to doing
1. be active German speaker (C1)
2. be active English speaker (C1)
3. plays guitar well
4. sing well
5. be "Sabeumnim" with the black belt
6. cook professionally
7. drive well
8. swim well
9. memorize and keep learn Quran
10. stitch well
11. fight well (truly physically fight)
all you can read!
Sunday, December 9, 2012
Wednesday, November 28, 2012
kann nicht mehr sprechen
Ich bin ja oft alleine
fast immer
fast immer
Nur ich und meine Gefühle
aber weißt du
das bedeutet nicht
dass ich alleine sein mag
Ich brauche dich
aber ich kann das nur nicht sagen
Verstehst du?
dass ich verletzt hier bin
Ich hab Angst eigentlich
dich zu verlieren
während ich dich immer liebe
und ich nach dir immer sehne
Siehst du?
Hier sind meine Tränen
obwohl draußen es viel Lächeln gibt
Ich möchte nicht
dich weg zu gehen
aber ich hab fast nichts
dir zu geben
sondern die Liebe und die Tränen
Friday, August 10, 2012
Far From The Reality
Setiap orang boleh saja memiliki banyak impian dan cita-cita. Bisa dibilang, bermimpi menjadi keharusan setiap orang untuk meraih kualitas dalam hidupnya
Mimpilah sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, karena bermimpi adalah satu-satunya bentuk investasi gratis di masa depan, dengan jaminan sukses yang sangat besar
Kalimat ini terdengar begitu indah dan betenaga, membuat orang kian bersemangat untuk bermimpi. Tapi tentunya kita sadar, bahwa tangan kita tidak cukup besar untuk memeluk dunia ini
Dari sekian banyak mimpi dan cita-cita yang kumiliki, ada semacam "daftar lain" di sana, daftar mimpi yang sepertinya hanya bisa kutuliskan, mimpi -yang jika kulihat dari apa yang ada selama ini- yang sepertinya akan tetap hanya sebatas mimpi
Meski pun begitu, rasanya terlalu naif jika harus membuang mimpi. Karenanya, kalau pun kelak mimpi itu tidak bisa terwujud, tentu tidak ada salahnya jika mengingat mimpi itu dan membingkainya dalam pigura
Ya, aku ingin menjadi seorang musisi. Paling tidak, aku ingin bisa mahir memainkan sebuah alat musik, seperti gitar, atau piano, atau biola..
Selain itu, aku ingin jadi bidan. Sejak tau betapa mulia dan berartinya jasa seorang bidan, aku lantas berpikir demikian..
Tidak muluk-muluk ingin menyaingi Celine Dion atau Siti Nurhaliza, aku ingin menjadi seorang penyanyi.. ahh.. atau setidaknya mampu bernyanyi dengan baik dan indah, karena bernyanyi membuat mood terasa lebih baik, setidaknya bagiku
Dari dulu, aku selalu berpikir,
Betapa hidup ini tidak adil, tetapi Allah pasti adil
Saat pintu lain ditutup, pintu lain pun dibukakan..Allahhu Akbar. Sesungguhnya Ia-lah yang Maha Mengetahui akan jalan hidup hamba-Nya
Aku boleh saja tidak mencapai mimpi-mimpiku ini, tapi aku yakin, aku akan tetap berharga
Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia, bukan?
Dari dulu, aku selalu berpikir,
Betapa hidup ini tidak adil, tetapi Allah pasti adil
Saat pintu lain ditutup, pintu lain pun dibukakan..Allahhu Akbar. Sesungguhnya Ia-lah yang Maha Mengetahui akan jalan hidup hamba-Nya
Aku boleh saja tidak mencapai mimpi-mimpiku ini, tapi aku yakin, aku akan tetap berharga
Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia, bukan?
Sunday, May 27, 2012
Meine Traumberufe
(Bild von : © Andrzej - Fotolia.com)
Alle Menschen haben Traumberufe, die sie werden wollen. So wie ich. Als junge Frau, habe ich viele Traumberufe. Ich hoffe, dass ich meine Traumberufe in der Zukunft realisieren kann. Aamiin..
1. Dolmetscherin
4. Mutter und Hausfrau
5. Schriftstellerin
6. Unternehmerinnen oder Kauffrau
7. Sprachwissenschaftlerin
8. Dozentin
9. Journalistin
10. Ministerin
Hier sind meine einige Traume, die ich vor meinen Tod werden will..
Hier sind meine einige Traume, die ich vor meinen Tod werden will..
Friday, May 25, 2012
Awal perjalanan, Awal yang baru
Sewaktu
awal-awal aku di terima di sastra jerman UI, tak lama setelah
pengumuman, aku pergi ke salah seorang tetanggaku. Ya aku datang ke
tetanggaku itu siang hari, dalam rangka meminta bantuannya untuk
mengajukan BOPB. Aku memerlukannya untuk mengisi suatu formulir untuk
pengajuan BOPB itu.
Sebagai tetangga yang baik, tentulah ia bertanya pada ku dengan ramah.
" Eh dik Retno, sudah diterima kuliah ya? Alhamdulillah. Diterima dimana?", tanya beliau sambil tersenyum lebar.
Aku menjawab, "Alhamdulillah di UI Pakde" sambil tersenyum sopan.
Beliau pun menyahut, "Oh alhamdulillah. Hebat sekali ya".
Aku hanya tersenyum. Sebagian senang, sebagian ragu.
Ragu?
Ya aku ragu.
Seakan situasi ini menyindirku, beliau bertanya lagi, "Di jurusan apa?"
Hmmmmphhh.. Benar saja.
Ku jawab dengan suara perlahan, " Sastra, Pakde".
Saat itu aku berdoa di dalam hati, nyaris sesak napas karenanya.
Jangan.. please jangan diterusin lagi..
"Sastra?sastra apa?",lanjut beliau.
".. Sastra Jerman, Pakde", jawabku pelan..
Detik berikutnya setelah itu, aku menunduk, nyaris tak berani menatap muka beliau.
Entah kenapa aku ragu mengakui status "sastra jerman" ku saat itu.
Ternyata tak berhenti sampai disitu.
"Sastra jerman?kok ambilnya sastra jerman?", kata beliau setengah tersenyum sambil membalik-balikkan kertas formulir BOPB yang kuberikan padanya.
Aku tersentak, kaget, tidak tahu harus berkata apa.
Setelah tak terdengar jawaban dariku, beliau menambahkan lagi, "kenapa nggak ambil sastra indonesia aja?itukan sastra kita sendiri".
..... hening di dalam hati. Aku terdiam mendengar pertanyaan itu.
Bersamaan dengan itu, aku berpikir berputar-putar, memutuskan jawaban terbaik yang bisa ku lontarkan.
"hmmmm.. soalnya.. ee.. saya tertarik dengan itu Pakde."
haaahhh.. sungguh bodoh. Nggak ada jawaban yang lebih keren apah?
Mendengar jawabanku, beliau hanya tersenyum-senyum simpul.
Dalam hati aku menebak-nebak apa arti dari senyum itu sambil berharap urusan isi-mengisi formulir ini cepat berakhir.
Itulah sepenggal pembicaraan, yang membuatku berpikir dan berusaha menebak-nebak jalan hidupku untuk beberapa tahun mendatang, atas pilihanku.
Saat itu aku tidak mengerti, kenapa bisa merasakan keraguan seperti itu.
Mungkin, bayangan akan kuliah sastra, yang sama sekali taak pernah terbayangkan olehku, membuatku sedikit takut. Perasaan takut seperti saat kita harus menjabat tangan seseorang yang sama sekali belum kita kenal.
Mungkin juga, karena aku masih merasa sedih, atas kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pilihan pertamaku, yang kuidam-idamkan sampai terbawa mimpi, yang akhirnya sekarang masih sekedar mimpi.
dan pembicaraan diatas, nyaris membuatku goyah akan pilihanku, nyaris membuatku merasa kerdil. Hal itu seakan-akan menguatkan penilaian bahwa seharusnya, aku tidak merasa senang karena telah diterima kuliah di sastra jerman.
Aku menyukai bahasa jerman, aku menikmati saat-saat belajarnya di SMA. Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku memilih sastra jerman, hanya saja..
..
Setelah beberapa bulan ini menjalani perjalanan baruku, aku setidaknya mulai merasa tenang. Dan bersyukur, itu yang terpenting. Aku mulai menata tujuan ku, dan menjalaninya. Pada awalnya aku harus berusaha keras, memalingkan wajah dari sisi-sisi yang mengingatkanku pada pilihan pertamaku.
Kini, aku bisa lebih menghargai ilmu, terlepas dari pandangan orang lain. Aku bisa menghargai nikmat Nya terhadapku atas pilihanku ini.
Aku kini mengerti, bahwa aku akan bisa bahagia juga di jalan ini. Jalan yang mungkin menurut orang lain tidak spesial. Walaupun aku tau, aku mungkin tidak bisa sepenuhnya sempurna dalam menjalaninya.
Tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk setuju atas penilaianku, bukan?
dan saat ini aku akan terus melantunkan senandung "sastra jerman" itu bersama teman-teman yang lain. teman-teman yang juga akan ku jumpai di puncak nanti.. Insya Allah
Subscribe to:
Posts (Atom)





