Sebagai tetangga yang baik, tentulah ia bertanya pada ku dengan ramah.
" Eh dik Retno, sudah diterima kuliah ya? Alhamdulillah. Diterima dimana?", tanya beliau sambil tersenyum lebar.
Aku menjawab, "Alhamdulillah di UI Pakde" sambil tersenyum sopan.
Beliau pun menyahut, "Oh alhamdulillah. Hebat sekali ya".
Aku hanya tersenyum. Sebagian senang, sebagian ragu.
Ragu?
Ya aku ragu.
Seakan situasi ini menyindirku, beliau bertanya lagi, "Di jurusan apa?"
Hmmmmphhh.. Benar saja.
Ku jawab dengan suara perlahan, " Sastra, Pakde".
Saat itu aku berdoa di dalam hati, nyaris sesak napas karenanya.
Jangan.. please jangan diterusin lagi..
"Sastra?sastra apa?",lanjut beliau.
".. Sastra Jerman, Pakde", jawabku pelan..
Detik berikutnya setelah itu, aku menunduk, nyaris tak berani menatap muka beliau.
Entah kenapa aku ragu mengakui status "sastra jerman" ku saat itu.
Ternyata tak berhenti sampai disitu.
"Sastra
jerman?kok ambilnya sastra jerman?", kata beliau setengah tersenyum
sambil membalik-balikkan kertas formulir BOPB yang kuberikan padanya.
Aku tersentak, kaget, tidak tahu harus berkata apa.
Setelah
tak terdengar jawaban dariku, beliau menambahkan lagi, "kenapa nggak
ambil sastra indonesia aja?itukan sastra kita sendiri".
..... hening di dalam hati. Aku terdiam mendengar pertanyaan itu.
Bersamaan dengan itu, aku berpikir berputar-putar, memutuskan jawaban terbaik yang bisa ku lontarkan.
"hmmmm.. soalnya.. ee.. saya tertarik dengan itu Pakde."
haaahhh.. sungguh bodoh. Nggak ada jawaban yang lebih keren apah?
Mendengar jawabanku, beliau hanya tersenyum-senyum simpul.
Dalam hati aku menebak-nebak apa arti dari senyum itu sambil berharap urusan isi-mengisi formulir ini cepat berakhir.
Itulah
sepenggal pembicaraan, yang membuatku berpikir dan berusaha
menebak-nebak jalan hidupku untuk beberapa tahun mendatang, atas
pilihanku.
Saat itu aku tidak mengerti, kenapa bisa merasakan keraguan seperti itu.
Mungkin,
bayangan akan kuliah sastra, yang sama sekali taak pernah terbayangkan
olehku, membuatku sedikit takut. Perasaan takut seperti saat kita harus
menjabat tangan seseorang yang sama sekali belum kita kenal.
Mungkin
juga, karena aku masih merasa sedih, atas kehilangan kesempatan untuk
mendapatkan pilihan pertamaku, yang kuidam-idamkan sampai terbawa mimpi,
yang akhirnya sekarang masih sekedar mimpi.
dan
pembicaraan diatas, nyaris membuatku goyah akan pilihanku, nyaris
membuatku merasa kerdil. Hal itu seakan-akan menguatkan penilaian bahwa
seharusnya, aku tidak merasa senang karena telah diterima kuliah di
sastra jerman.
Aku menyukai bahasa jerman, aku menikmati saat-saat
belajarnya di SMA. Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku memilih
sastra jerman, hanya saja..
..
Setelah
beberapa bulan ini menjalani perjalanan baruku, aku setidaknya mulai
merasa tenang. Dan bersyukur, itu yang terpenting. Aku mulai menata
tujuan ku, dan menjalaninya. Pada awalnya aku harus berusaha keras,
memalingkan wajah dari sisi-sisi yang mengingatkanku pada pilihan
pertamaku.
Kini, aku bisa lebih menghargai ilmu, terlepas
dari pandangan orang lain. Aku bisa menghargai nikmat Nya terhadapku
atas pilihanku ini.
Aku kini mengerti, bahwa aku akan
bisa bahagia juga di jalan ini. Jalan yang mungkin menurut orang lain
tidak spesial. Walaupun aku tau, aku mungkin tidak bisa sepenuhnya
sempurna dalam menjalaninya.
Tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk setuju atas penilaianku, bukan?
dan
saat ini aku akan terus melantunkan senandung "sastra jerman" itu
bersama teman-teman yang lain. teman-teman yang juga akan ku jumpai di
puncak nanti..
Insya Allah